Bahkan ada beberapa desa yang memiliki mitos dan dipercaya dari zaman ke zaman dan tidak terpengaruh oleh adanya perkembangan zaman.
Di Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, ada beberapa desa yang memiliki keunikan yang terus dipercaya dan menjadi perbincangan hingga saat ini.
Cerita ini turun temurun dan terus dilestarikan lewat mulut ke mulut dari warga setempat.
1.Desa Kanci, merupakan sebuah desa yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Kantor Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon.
Konon menurut berbagai cerita, kanci memiliki keistimewaan yang terus lestari hingga saat ini, diantaranya adalah dipercaya, bahwa di Desa Kanci tidak bisa dipimpin oleh kepala Desa atau Kuwu secara berkelanjutan ( 2 kali kepemimpinan secara berturut-turut ) . Keistimewaan lainnya adalah, seorang Kuwu tidak diperbolehkan untuk melakukan takziah jika ada warganya yang meninggal dunia, bahkan keluarganya sendiri, kecuali si mayat sudah dikebumikan, dan keunikan lainnya adalah jika ada yang meninggal dunia, maka kerandanya tidak diperbolehkan lewat di depan kantor kuwu ( Wallahua'lam)
2.Desa mertapadawetan, yang jaraknya pun tidak terlalu jauh dari Kantor kecamatan Astanajapura. Dari berbagai obrolan dan cerita warga, bahwa desa Mertapadawetan tidak bisa dipimpin oleh Kuwu yang salah dalam bertindak, karena jika Kuwu melakukan kesalahan maka resikonya adalah usianya tidak akan panjang, bahkan kematian terjadi disaat jabatan Kuwu tersebut belum berakhir, dalam artian jika ingin memimpin di desa mertapadawetan maka harus berperilaku baik dan tidak melakukan kesalahan yang sifatnya berat ( Wallahua'lam)
3.Desa Kendal, merupakan desa yang memiliki cerita unik yang hampir sama dengan desa kanci, yang membedakan adalah menurut berbagai cerita, Kendal tidak pernah memiliki kuwu mantan, hal ini dikarenakan, dalam perjalanan Kuwu selama ini, jika kuwu menduduki jabatan dua periode, maka Kuwu tersebut akan meninggal dunia sebelum masa jabatannya berakhir, oleh karenanya di Kendal dikenal tidak memiliki kuwu mantan (Wallahua'lam)
Keunikan tiga desa tersebut selalu menjadi perbincangan yang selalu ramai dibicarakan, terlebih saat menjelang pemilihan kepala desa atau Kuwu.
Tentang kebenarannya mungkin hanya bersifat suatu kebetulan, namun dipercaya oleh berbagai kalangan, bahwa hal tersebut memang benar adanya.
Jika menilik pada cerita diatas, maka ada kearifan yang harus kita sikapi dengan bijak.
Sejarah dan keunikan desa menjadi sebuah cerminan, bahwa dalam meniti kehidupan yang sifatnya duniawi, harus didasari dengan rasa keikhlasan untuk mengabdi dan jangan dijadikan sebuah jalan menuju kekayaan atau jabatan semata.
Kehidupan itu ada akhirnya, jabatannya itu ada batasnya dan kepastian takdir Illahi Takan ada yang bisa membendung.
Apakah cerita tersebut benar-benar atau tidak, semuanya dikembalikan pada keyakinan dan kepercayaan masing-masing.kesimpulan dari babad atau cerita tersebut adalah pesan leluhur yang harus dijaga, bahwa seorang pemimpin harus memiliki jiwa sosial tinggi dan jangan memanfaatkan kedudukan untuk memperkaya diri. (Wallahua'lam)
0 $type={blogger}:
Posting Komentar