5 Jun 2026
Tertangkapnya petinggi BGN "Harapan baru penegakan Hukum"
10 Apr 2026
Perang Amerika-Israel vs Iran " tak lepas dari Agama ?"
Jika dianalisis lebih jauh, aktor utama perang AS-Israel dengan Iran; pertama, Donald John Trump (lahir 14 Juni 1946) adalah pebisnis, presenter acara realitas, dan politikus Amerika Serikat yang menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat ke-45 (2017) hingga (2021) dan ke-47 sejak 2025. Ia adalah satu-satunya yang menjadi Presiden Amerika Serikat yang sebenarnya belum pernah berpengalaman memegang jabatan politik sama sekali;
kedua, Benjamin Netanyahu (lahir 21 Oktober 1949) adalah seorang Perdana Menteri Israel sejak Desember 2022, yang menjabat dari (1996-1999) dan (2009-2021) hingga kini, yang terkenal sangat kontroversial.
Kedua tokoh ini adalah penyebab utama terjadinya perang yang hingga kini masih berlanjut. Akibatnya, semakin meluas dan mungkin memicu Eropa dan dunia Barat secara umum terlibat dalam konflik tersebut, mengingat mereka menjadi bagian dari sekutu Amerika Serikat. Tentu banyak negara tidak menginginkan hal ini terjadi terhadap dunia Barat.
Jika perang tidak segera berhenti, maka ketegangan akan semakin meningkat dengan lonjakan harga minyak dan energi. Jelas, konflik di Timur Tengah semakin mengganggu pasokan energi. Sebab kemungkinan negara-negara di kawasan Teluk akan bersatu dengan Iran menutup jalur perdagangan sebagai pasokan minyak utama melalui Selat Hormuz, yang mana jalur tersebut menjadi lalu lintas perdagangan minyak dunia.
Dari peristiwa tersebut, kita sebagai Manusia saat ini lebih mementingkan politik dan keuntungan dengan mengesampingkan arti kemanusiaan.
Betapa tidak, rasa kemanusiaan kita dikalahkan dengan sesuatu yang berujung pada untung rugi yang dikemas dengan berbagai dalih, bahkan ada yang mengatasnamakan Hak membela ataupun sesuai Agama tertentu .
Sebagai Manusia telah dianugerahi Tuhan untuk memiliki Iman dan akal, itu sebuah keniscayaan yang membedakan antar Manusia dengan Hewan
Andai kita mau mengesampingkan ego dan kepentingan pribadi atau golongan, mungkin peperangan tersebut tidak akan pernah terjadi, sayangnya rasa kemanusiaan kita kerap dikalahkan dengan sesuatu yang bersifat kepentingan pribadi maupun golongan.
Ironisnya, disadari atau tidak, perang yang terjadi saat ini kerap dijadikan sebuah landasan yang bahkan mengatasnamakan ajaran Agama dan kepercayaan suatu kaum.
Fakta yang tidak bisa dipungkiri, kekejaman zionis yang didukung Amerika selalu menyasar umat atau Negara Muslim.
Andai saja Negara Muslim bersatu, tidak munggkin Kaum Zionis atau Amerika berani melakukan penyerangan yang membabi buta bahkan melanggar Resolusi PBB, hanya saja hingga saat ini baru Negara Iran yang berani melakukan perlawanan secara nyata, hingga akhirnya para zionis dan Amerika seolah menjadi Negara yang sangat super , yang tidak akan ada satu Negara pun yang berani menentangnya.
Terlepas dari peperangan yang terjadi saat ini, muncul berbagai penilaian yang disampaikan beberapa pakar bahkan pengamat, yang menjelaskan tentang mengapa Israel berani melakukan serangan atau lebih tepatnya adalah pembantaian, karena apa yang mereka lakukan telah tertulis dalam Bimbel atau kita yang mereka percaya, bahwa semakin cepat Dunia ini menuju kehancuran, hususnya kehancuran Umat Islam, maka semakin cepat pula Yesus sebagai juru penyelamat akan turun ke muka bumi.
Sementara dalam kalangan Islam pun ada yang menjelaskan, bahwa semakin cepat kehancuran ini terjadi, maka Imam Mahdi akan segera turun kemuka bumi
Inilah yang menjadi perdebatan dan kekhawatiran jika peperangan disangkut pautkan dengan Agama.
Semoga kita semua sebagai Manusia yang berakal, mampu menggunakan akal kita dengan baik dan tidak mengesampingkan arti kemanusiaan.
24 Mar 2026
Program MBG " siapa yang meraup keuntungan ? "
Keuntungan mengelola program MBG menjadi ajang perbincangan yang hanya mampu untuk sekedar dijadikan bahan perbincangan.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah masih terus menuai pro dan kontra di masyarakat. Program yang di awal memerlukan pendanaan 71 triliun rupiah dinilai berpotensi memangkas anggaran dari sektor-sektor lain. Kondisi ini mengkhawatir banyak pihak karena disinyalir secara pembiayaan akan terus membengkak, dan beberapa sektor penting akan terdampak akibat pemangkasan anggaran, seperti sektor pendidikan dan kesehatan.
program MBG menghadapi tantangan besar terutama dalam aspek distribusi dan pengadaan bahan makanan. program berskala nasional ini beresiko mengalami pemborosan karena sifatnya yang universal, di mana anak-anak dari keluarga mampu juga menerima manfaatnya meskipun sebenarnya tidak membutuhkan.
untuk mendukung keberhasilan program ini perlu kiranya pemerintah belajar dari negara lain yang telah menjalan program yang sama. Seperti program pemberian makan gratis bagi anak sekolah yang dilaksanakan oleh Amerika Serikat. Di AS, disebutnya, program pemberian makan gratis sebagai bagian dari kebijakan nasional dengan skema Farm to Table, dan program ini didanai oleh Sustainable Agriculture Research and Education (SARE) dan melibatkan petani, peternak, pendidik, serta komunitas-komunitas di Amerika Serikat. Program ini bertujuan untuk mengembangkan sistem distribusi yang lebih inovatif, memberikan akses terhadap makanan lokal yang bergizi kepada anak sekolah, serta membantu meningkatkan kesejahteraan ekonomi daerah sehingga ongkos logistik lebih murah dan kesejahteraan masyarakat menjadi lebih terjamin,
untuk menjamin keberhasilan program semacam ini tentu menuntut pengelolaan yang baik agar tidak merugikan petani kecil dan pebisnis lokal. Jika program ini terlalu sentralistik, hanya vendor besar yang akan mendapatkan keuntungan, sementara petani kecil dan UMKM lokal akan tersingkir. Agar lebih efektif, pemerintah harus memprioritaskan daerah dan sekolah dengan tingkat food insecurity tertinggi. Dengan anggaran yang terbatas, program ini sebaiknya difokuskan pada anak-anak dari keluarga kurang mampu terlebih dahulu. program MBG dapat saja memberikan manfaat signifikan asal dilaksanakan sesuai tepat sasaran seperti fokus pada kelompok rentan.
Untuk memastikan efektivitas anggaran adalah dengan melibatkan audit independen, dan masyarakat dalam pengawasan. Oleh karena itu pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran yang terkait program ini.
Sebagai bentuk efisiensi pemerintah sesungguhnya dapat menggunakan skala prioritas anggaran yang lebih baik. Alternatif pendanaan mencakup peningkatan efisiensi belanja pemerintah dengan pemangkasan anggaran sebaiknya dilakukan secara hati-hati agar tidak merugikan sektor penting. Apabila harus melakukan efisiensi, pemangkasan dapat diberlakukan pada belanja birokrasi, perjalanan dinas, pajak progresif untuk kelompok kaya, dan proyek infrastruktur yang tidak mendesak.
Kendati demikian, program MBG berpotensi meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui perbaikan gizi dan kesehatan anak. Data Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics 2023 melaporkan bahwa anak-anak yang menerima makanan gratis berpeluang lebih tinggi memiliki ketahanan pangan dan kesehatan yang lebih baik.
Sayangnya, dari sekian lama perjalanan hadirnya MBG, tidak sedikit persoalan bermunculan, dari mulai banyaknya siswa yang keracunan sampai ditemukannya banyak menu MBG yang dirasa sangat tidak sesuai.
Yang lebih miris lagi, banyak dugaan timbul, hadirnya MBG menjadi ladang bisnis yang sangat menguntungkan bagi pengusaha kelas atas, betapa tidak, dari informasi yang didapat, untuk hanya sekedar konfensasi saja , pemilik atau pengelola MBG akan mendapat kucuran dana per harinya sebesar Rp.6.000.000 itu belum termasuk biaya operasional ditambah keuntungan lainnya yang didapat dari potongan menu yang tidak semestinya.
Bahkan yang tidak kalah mencrnangkan, Pemerintah menjelaskan, bahwa berhentinya program MBG selama beberapa hari menjelang hingga sesudah lebaran idul Fitri, bisa menghemat anggaran sebesar 5 Triliun.
Lantas pertanyaannya, patutkah MBG ini tetap dipertahankan dengan jumlah anggaran yang super besar dan menguntungkan sekelompok orang saja, atau lebih bijak untuk dihentikan.
23 Feb 2026
Jaga Jarimu di Bulan Ramadhan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menghadirkan kehidupan baru bagi manusia, dimensi realitas hidup yaitu kehidupan nyata dan kehidupan maya. Gaya dan pola hidup manusia modern adalah kehidupan internet. Bahkan realitas internet membentuk identitas baru yang disebut generasi internet (netizen) atau warganet. Generasi netizen menggabungkan pola, gaya dan struktur hidup dunia maya dengan dunia nyata dalam relasi informasi dan komunikasi. Internet menjadi kebutuhan dasar hidup, setara dengan kebutuhan primer sandang, pangan dan papan. Realitas generasinet semua orang bebas berekspresi mengaktulisasikan diri, konten-konten berita dikemas sedemikian rupa hingga sulit membedakan mana yang benar dan tidak.
Ajaran Islam telah memprediksi suasana bathin warganet atas berita hoax, maka islam menghadirkan tuntunan yang disebut tabayyun (melakukan klarifikasi atas setiap berita atau informasi yang diterimanya). Setiap informasi yang tidak benar, hoax, bohong, fitnah sangat berdampak buruk terhadap relasi sosial masyarakat, sehingga Islam menempatkan fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Rasa-rasanya tidak sempurna warganet jika setiap infomrasi yang diterima tanpa dishare. Bahagia jika infomrasi yang diterima telah diteruskan kepada orang lain tanpa mengetahui isi informasi tersebut sudah dikemas dalam bentuk gambar, infrografis, video atau film pendek bahkan sudah diedit sesuai keinginan. Hasil editan yang sangat menarik, disesuaikan dengan selera warganet tanpa peduli etika, nilai dan norma, terutama norma agama.
Pada situasi seperti ini tentu ada tantangan tersendiri bagi umat Islam yang menjalankan ibadah puasa. Ibadah puasa patut menjaga totalitas jiwa raga, memelihara dan menahan hati, penglihatan, pendengaran, perkataan termasuk jari-jari manis yang berfungsi mengetik dan menyebarkan informasi melalui smartphone, tab, laptop agar tidak mengetik, like, menyebarkan informasi yang mengandung fitnah, hoax, ujaran kebencian dsb. Sebab pada hakekatnya dari like sesunggunya anda telah menyetujui isi informasi. Jika yang kita like dan share itu fitnah dan hoax maka kita ikut andil menyebarkan berita yang tidak benar.
Ada fenomena menarik dari warganet hari ini lebih memilih membuka aib dalam rumah tangga yang tidak sepatutnya diperlihatkan, bahkan aib masa lalunya menghiasai ruang sosial media, yang kemudian mendapat “like” dan komentar warganet yang beragam sekaligus memburukkan keadaan dengan komen yang tidak sepatutnya atau tidak layak. Situasi seperti ini sangat disayangkan khususnya bagi warganet yang sedang menjalankan ibadah puasa ikut menjadi pelaku secara sadar atau tidak sadar menyebarkan informasi hoax.
Perlu ada pendewasaan penggunaan media bagi warganet, sebab menjadi tanggungjawab lebih besar secara personal untuk tidak terus menyebarkan maklumat atau bahan berita yang mengaibkan, informasi hoax dan lainnya. Patut mendewasakan jari-jari manis dari kita semua untuk tidak mudah menyebarkan fitnah dan berita palsu.
Islam mengajarkan menjaga lisan dan tangannya. Rasulullah saw bersabda yang artinya “Mereka bertanya, Wahai Rasulullah, bagaimanakah Islam yang paling afdhal itu?” Beliau menjawab, “Seorang muslim yang menyelamatkan orang muslim lainnya dari bencana akibat perbuatan lidah dan tangannya.” (H.R. Bukhari). Islam mengajarkan bahwa menyelamatkan orang lain dari akibat perbuatan ucapan dan jari-jari manisnya adalah seorang Islam yang baik.
Di bulan suci Ramadhan sekaligus beribadah puasa hendaknya menjaga jari-jari manis dari tidak menyebarkan informasi hoax, fitnah, gibah dan aib dirinya maupun orang lain, karena akan mempengaruhi nilai pahala ibadah puasa, meskipun tidak secara langsung membatalkan puasanya. Harus dewasa menggunakan jari-jari manis meneruskan informasi yang belum tahu pasti kebenarannya.Selamat menjalankan Ibadah Puasa.