Hiruk pikuk keberadaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) selalu panas untuk dijadikan bahan obrolan atau perbincangan ditengah perekonomian yang kian tidak menentu.
Keberadaan MBG menimbulkan dua penilaian yang berbeda, ada yang pro, tidak sedikit pula yang kontra.
Kita lihat sisi positifnya tentang keberadaan program MBG.
1.Atasi stunting & gizi buruk,
Anak sekolah & balita dapat asupan protein, sayur, buah tiap hari. Harapannya angka stunting turun karena banyak kasus diantaranya adalah disebabkan orang tua tidak mampu membeli lauk bergizi.
2.Bantu beban orang tua,
Buat keluarga kurang mampu, tidak perlu pusing memikirkan bekal. Bisa mengalihkan uang jajan buat kebutuhan lain, seperti buku, seragam, kesehatan.
3.Dorong ekonomi lokal
Dapur MBG + bahan baku wajib dari petani/peternak/UMKM sekitar. Bisa jadi pasar tetap buat desa. Petani sayur, peternak telur, ayam sudah memiliki pangsa pasar yang jelas.
4.Meningkatkan konsentrasi belajar.
Tidak ada lagi Anak masuk sekolah dengan perut kosong. Yang berdampak kurang fokus belajar
5. Pemerataan gizi.
Anak kaya & miskin makan menu yang sama di sekolah. Mengurangi kesenjangan.
Sayangnya, tidak selalu hal yang positif berdampak positif , harus ada evaluasi yang berkelanjutan dengan memperhatikan persoalan yang terjadi di lapangan.
2. Sisi KONTRA / Tantangan MBG.
1.Anggaran
Dana untuk MBG nasional menyedot anggaran triliunan. Banyak yang khawatir menggerus anggaran pendidikan, kesehatan, atau infrastruktur desa dan lain.
2.Masalah distribusi & kualitas
Rawan telat datang, menu monoton, kurang higienis, atau tidak cocok di daerah 3T. Apalagi jika dapurnya jauh, makanan bisa basi.
3.Potensi korupsi/kolusi
Proyek sebesar ini rawan "main" di tender dapur, suplier, dan menu. Perlu pengawasan ketat dari warga & BPK.
4.Ketergantungan
Takutnya orang tua jadi lepas tangan soal gizi anak. "Beranggapan sudah ada MBG". Padahal pendidikan gizi di rumah tidak kalah penting.
5.Belum merata & belum siap SDM
Ahli gizi, juru masak, tenaga dapur masih kurang. Terlebih di Desa terpencil yang susah dijangkau.
Progran MBG akan tercapai dengan baik, jika semua pelaku kebijakannya mengutamakan kepentingan orang banyak dan mengesampingkan kepentingan pribadi.
Sayangnya banyak kasus terjadi ditengah program andalan pemerintah ini, dari terjadinya banyak keracunan akibat MBG, sampai koruptor yang tertangkap pun karena MBG.
Sehebat apapun program yang digulirkan, jika dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki moral, maka hasilnya akan sia-siakan.
Dari dua penilaian tersebut, perlu adanya pertimbangan dengan mengutamakan hari nurani dan bukan ego.
Jika sekiranya lebih banyak masalahnya ketimbang manfaatnya, tidak ada salahnya program tersebut ditiadakan, toh Masyarakatpun sudah paham, bahwa program yang dijadikan prioritas utama oleh orang Nomor satu di Republik ini sangat baik.hanya saja dirusak oleh mereka yang tidak memiliki rasa kecintaan terhadap Republik ini.
0 $type={blogger}:
Posting Komentar