perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menghadirkan kehidupan baru bagi manusia, dimensi realitas hidup yaitu kehidupan nyata dan kehidupan maya. Gaya dan pola hidup manusia modern adalah kehidupan internet. Bahkan realitas internet membentuk identitas baru yang disebut generasi internet (netizen) atau warganet. Generasi netizen menggabungkan pola, gaya dan struktur hidup dunia maya dengan dunia nyata dalam relasi informasi dan komunikasi. Internet menjadi kebutuhan dasar hidup, setara dengan kebutuhan primer sandang, pangan dan papan. Realitas generasinet semua orang bebas berekspresi mengaktulisasikan diri, konten-konten berita dikemas sedemikian rupa hingga sulit membedakan mana yang benar dan tidak.
Ajaran Islam telah memprediksi suasana bathin warganet atas berita hoax, maka islam menghadirkan tuntunan yang disebut tabayyun (melakukan klarifikasi atas setiap berita atau informasi yang diterimanya). Setiap informasi yang tidak benar, hoax, bohong, fitnah sangat berdampak buruk terhadap relasi sosial masyarakat, sehingga Islam menempatkan fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Rasa-rasanya tidak sempurna warganet jika setiap infomrasi yang diterima tanpa dishare. Bahagia jika infomrasi yang diterima telah diteruskan kepada orang lain tanpa mengetahui isi informasi tersebut sudah dikemas dalam bentuk gambar, infrografis, video atau film pendek bahkan sudah diedit sesuai keinginan. Hasil editan yang sangat menarik, disesuaikan dengan selera warganet tanpa peduli etika, nilai dan norma, terutama norma agama.
Pada situasi seperti ini tentu ada tantangan tersendiri bagi umat Islam yang menjalankan ibadah puasa. Ibadah puasa patut menjaga totalitas jiwa raga, memelihara dan menahan hati, penglihatan, pendengaran, perkataan termasuk jari-jari manis yang berfungsi mengetik dan menyebarkan informasi melalui smartphone, tab, laptop agar tidak mengetik, like, menyebarkan informasi yang mengandung fitnah, hoax, ujaran kebencian dsb. Sebab pada hakekatnya dari like sesunggunya anda telah menyetujui isi informasi. Jika yang kita like dan share itu fitnah dan hoax maka kita ikut andil menyebarkan berita yang tidak benar.
Ada fenomena menarik dari warganet hari ini lebih memilih membuka aib dalam rumah tangga yang tidak sepatutnya diperlihatkan, bahkan aib masa lalunya menghiasai ruang sosial media, yang kemudian mendapat “like” dan komentar warganet yang beragam sekaligus memburukkan keadaan dengan komen yang tidak sepatutnya atau tidak layak. Situasi seperti ini sangat disayangkan khususnya bagi warganet yang sedang menjalankan ibadah puasa ikut menjadi pelaku secara sadar atau tidak sadar menyebarkan informasi hoax.
Perlu ada pendewasaan penggunaan media bagi warganet, sebab menjadi tanggungjawab lebih besar secara personal untuk tidak terus menyebarkan maklumat atau bahan berita yang mengaibkan, informasi hoax dan lainnya. Patut mendewasakan jari-jari manis dari kita semua untuk tidak mudah menyebarkan fitnah dan berita palsu.
Islam mengajarkan menjaga lisan dan tangannya. Rasulullah saw bersabda yang artinya “Mereka bertanya, Wahai Rasulullah, bagaimanakah Islam yang paling afdhal itu?” Beliau menjawab, “Seorang muslim yang menyelamatkan orang muslim lainnya dari bencana akibat perbuatan lidah dan tangannya.” (H.R. Bukhari). Islam mengajarkan bahwa menyelamatkan orang lain dari akibat perbuatan ucapan dan jari-jari manisnya adalah seorang Islam yang baik.
Di bulan suci Ramadhan sekaligus beribadah puasa hendaknya menjaga jari-jari manis dari tidak menyebarkan informasi hoax, fitnah, gibah dan aib dirinya maupun orang lain, karena akan mempengaruhi nilai pahala ibadah puasa, meskipun tidak secara langsung membatalkan puasanya. Harus dewasa menggunakan jari-jari manis meneruskan informasi yang belum tahu pasti kebenarannya.Selamat menjalankan Ibadah Puasa.