6 Feb 2026

Aneka Batu hias dan lukisan kembali diburu para kolektor

INDOMEDIANEWS -Ditengah perkembangan jaman dan kemajuan berbasis teknologi, pengrajin dan penjual batu mulia hingga batu akik kembali menggeliat dengan menyajikan berbagai tipe dan bentuk yang disesuaikan dengan minat atau pesanan dari konsumen dari berbagai lapisan Masyarakat.
Salah seorang pengrajin dan pecinta sekaligus penjual batu hias, Bang Iduy, menuturkan berbagai jenis batu kembali akan menggema seperti beberapa tahun kebelakang.

"Saat ini para pecinta batu hias atau sejenisnya akan kembali menggeliat seperti beberapa tahun yang lalu, sebagai pecinta dan pengrajin, kami menyediakan berbagai jenis batu yang kerap diburu oleh para kolektor batu, ada beberapa jenis yang kami sajikan, seperti 1.parabia turmalin dari munjabek ,Birma, dan Madagaskar
2.Rubi yg warna merah cabe berasal dri Birma juga munjabek
3.emerald(jambrut) dri Columbia ,Zambia,Afganistan (panjir) yg masih di di buru warna yg hijau kebiruan..
4.saforet garnet dari kenyataan dan tanzania.
5.red pinel dari Birma,Vietnam,dan Asia lainnya
Dan untuk batu lokal atau Nusantara masih di dominasi oleh Bacan..dengan warna nya yg mewah..pancawarna yg artistik banget visual seniman alam..ijo Garut ..kalimaya yg di kenal dengan jarong nya dengan berbagai warna yg muncul di dalam batu.y..sangat memukau..idocrase ..solar dan batu gambar, batu-batu tersebut kami sediakan dengan harga yang disesuaikan, karena pada hakekatnya harga batu itu tergantung kecintaan, jadi secara umum, untuk menghargai sebuah batu sangatlah tidak mudah,semisal, bagi pecinta batu pirus bisa bernilai tinggi jika pembelinya sangat fanatik dengan pirus" tuturnya, Jum'at, 06/02/2026.

Bang Iduy yang saat ini membuka gerai atau galeri batu di Ruko No 4 Alun-alun Lemahabang, samping Happy Salon/jalan ke arah Bidan Mesa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, lebih lanjut menjelaskan.

"Saya sangat yakin, beberapa waktu kedepan, keberadaan pengrajin atau pecinta batu akan kembali menghiasi dunia seni ,hususnya para kolektor yang sangat sejak lama menjadi penggemar setia, oleh karenanya, kami sebagai salah seorang pengrajin dan penjual batu akik atau hias memberikan pelayanan maksimal bagi para pecinta batu, sesuai dengan apa yang disukai, tentunya dengan kualitas maksimal dan harga minimal, bahkan di grai atau kios kami, tidak semata menjual atau menyediakan berbagai jenis batu, namun dijual pula berbagai kreasi seni lainnya, seperti lukisan atau kerajinan dari berbagai bahan baku atau disesuaikan dengan pesanan"pungkasnya.

5 Feb 2026

Hanya karena Alat Tulis "Siswa Sekolah Dasar Akhiri hidup" Pemerintah harus bijak

Penulis : R.Agus Syaefuddin


Tragis, kemiskinan telah meruntuhkan moral dan kepercayaan kehidupan seseorang hingga memutuskan jalan pintas demi mengakhiri penderitaan sebagai jalan terbaik.
Betapa miris, bukan hanya kemiskinan bersifat materi, namun kemiskinan batiniah dan lainnya menjadi faktor penunjang seseorang untuk mengambil langkah pintas sebagai salah satu solusinya.
Dampak kemiskinan tidak hanya terjadi kepada seseorang untuk berbuat kejahatan, namun yang lebih tragis lagi adalah mengakhirinya dengan cara mengakhiri hidupnya.
Baru saja terjadi, Gadis cilik berusia 10 tahun yang baru duduk dibangku kelas 4 Sekolah Dasar di suatu daerah, nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri hanya karena tidak bisa memiliki alat kelengkapan sekolah.
Ini tidak perlu dijadikan ajang perdebatan yang berkepanjangan, namun yang perlu dipahami adalah, kemiskinan yang menerpanya sebagai salah satu faktor utama terjadinya hal tersebut.
Jika saja kita atau Pemerintah bisa berfikir bijak dan menghapus ego atau ambisi, hal tersebut bisa dihindari dengan cara yang lebih bijak dan penuh nalar sebagai Manusia.
Bisa kita bayangkan, Anak yang masih usia sangat kecil, mengambil jalan pintas karena kekecewaan yang nilainya sangat kecil, dengan mudahnya mengakhiri hidupnya dan meninggalkan luka mendalam bagi semua pihak yang memiliki naluri sebagai Manusia.
Ini hanya sebagian contoh yang mungkin akan terus terulang jika tidak segera diambil langkah yang kongkrit.
Menilik hal tersebut, penyebab dari terjadinya peristiwa yang memilukan ini hanya karena tidak adanya biaya untuk memenuhi kebutuhannya sebagai Siswa atau pelajar karena aspek kemiskinan.
Jika saja kita sebagai Anak Bangsa bisa memberikan masukan atau evaluasi terhadap berbagai kebijakan yang diterapkan Pemerintah, mungkin akan lebih baik program yang selama ini menjadi perbincangan, seperti salah satunya adalah Program MBG ( Makan Bergizi Gratis) dialihkan menjadi Program Pendidikan Gratis tanpa kecuali dengan aturan Hukum yang tegas.
Selama ini Memeng sering didengungkan adanya sekolah gratis atau lainnya, namun pada kenyataannya masih banyak terjadi pungutan atau apapun namanya dengan dalih yang seakan membenarkan.
Coba kita berfikiran Arif, berapa banyak anggaran yang digelontorkan dalam program MBG, jika dihitung secara kasar, setiap Siswa penerima MBG dianggarkan pada kisaran Rp.10.000 per porsi, diambil rata-rata setiap Bulannya adalah 25 porsi, maka per Siswa dianggarkan sebesar Rp.250.000.
Andai saja anggaran sebesar itu dialihkan untuk biaya pendidikan, akan lebih berdampak positif.
Dengan kekuasaan yang dimiliki Pemerintah, tentunya hal tersebut tidaklah sulit, dengan catatan, Sekolah dimanapun tidak diperbolehkan memungut sepeserpun kepada para Siswa, termasuk Sekolah diwajibkan untuk memenuhi kebutuhan para Siswa, seperti perlengkapan Sekolah, dari mulai alat tulis hingga seragam Sekolah.
Jika ditemukan adanya Sekolah yang melakukan pungutan dengan dalih apapun, terapkan Hukum Pidana.
Coba kita berfikiran positif, andai setiap sekolah memiliki minimalnya seratus Siswa, maka dalam setiap Bulan Sekolah akan menerima anggaran sebesar Rp.25.000.000 jika dikali 12 Bulan, maka Sekolah akan menerima Anggaran sebesar Rp.300.000.000.
Dengan jumlah sebesar itu, tentunya bisa menunjang kualitas pendidikan lebih baik, termasuk mampu mensejahterakan para Guru Honor dan menambah fasilitas pendidikan lainnya.
Uraian diatas, merupakan pemikiran yang sangat simpel dan bisa dikalkulasi dengan tidak memerlukan pemikiran para pemikir ulung.
Hanya saja, apapun yang ada dipikiran Rakyat terkadang dikalahkan oleh kebijakan dan kepentingan segelintir orang atau golongan.
Semoga dengan terjadinya peristiwa gantung diri yang dilakukan oleh Siswa Sekolah yang baru berusia 10 Tahun, mampu membuka mata hati dan menghilangkan keegoan dan keserakahan demi kepentingan yang selalu mengatasnamakan RAKYAT.

4 Feb 2026

Deklarasi Korbasis Karangsembung "LSM Kompak tegaskan katakan tidak untuk Korupsi"

INDOMEDIANEWS - Ratusan Pengurus dan Anggota LSM dari berbagai Wilayah hadir dalam acara Deklarasi Pengukuhan Kepengurusan LSM Kompak Korbasis Kecamatan Karangsembung Raya Kabupaten Cirebon, Rabu, 04/02/2026.
Acara yang dilaksanakan dan bertempat di salah satu Rumah Makan yang ada di Kabupaten Cirebon timur tersebut berjalan dengan penuh semangat dan kebersamaan.

Dalam pemaparannya, Ketua DPP LSM Kompak, Sudarto .SH, mengharapkan adanya semangat dan keinginan dari seluruh Anggota Kompak untuk berjuang demi kepentingan Rakyat diatas segalanya.

"Kami mengharapkan kepada pengurus yang baru dikukuhkan dan seluruh Anggota Kompak untuk mengutamakan kepentingan Masyarakat diatas segalanya, berani berjuang untuk kepentingan Rakyat, sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat yang berpedoman pada kepentingan Rakyat, tugas kita tidaklah mudah, namun bukan berarti kita tidak bisa jika apa yang kita lakukan berdasarkan rasa keadilan, Sosial, Kemasyarakatan dan kepentingan Masyarakat secara umum, intinya mari kita berjuang dan berkarya demi Republik tercinta, selama apa yang kita lakukan demi Rakyat, tidak ada istilah takut apalagi mundur" tuturnya.

Lebih lanjut Sudarto Menegaskan, bahwa di Republik ini sangat banyak persoalan yang hingga saat ini belum dapat diselesaikan secara maksimal, khususnya Tindakan Korupsi dan kesewenangan demi kepentingan segelintir Orang maupun golongan, termasuk diantaranya adalah keberadaan MBG ( Makan Bergizi Gratis)

"pada prinsipnya kami sangat mendukung adanya program MBG, hanya saja yang perlu kami tegaskan adalah adanya pengawasan yang ketat, hususnya dari pihak Kesehatan, jangan sampai terjadi persoalan seperti yang terjadi dibeberapa daerah selama ini, jangan sampai program yang tujuannya baik malah menghasilkan sesuatu yang kurang baik, satu hal lagi yang perlu kita sikapi adalah masih banyaknya prilaku korupsi di berbagai bidang, dan saya sebagai Ketua DPP LSM Kompak menegaskan tidak ada tempat untuk korupsi di Republik Ini, selain itu, kami mengucapkan selamat kepada pengurus Korbasis Kecamatan Karangsembung, selamat bertugas, jaga nama baik Lembaga dan junjung tinggi nilai-nilai Pancasila" pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Korbasis  LSM Kompak Kecamatan Karangsembung, Ade Falah usai acara pengukuhan menegaskan sikapnya akan berjuang demi Rakyat.

"Kita jangan bangga dengan atribut maupun sejenisnya, selagi kita belum bisa mengabdi demi Rakyat, oleh karenanya, kami mengajak seluruh unsur untuk berani katakan tidak bagi ketidak Adilan, LSM Kompak hadir demi Rakyat dan berjuang demi Rakyat, dalam kesempatan yang sangat luhur ini, saya sebagai ketua Kecamatan Karangsembung menegaskan dan mengajak seluruh lapisan untuk mengabdi dan bekerja sesuai fungsi keberadaan LSM, jangan takut bertindak dan katakan tidak untuk ketidak Adilan, selama kita berjalan di jalur yang benar, tidak ada istilah takut, semangat kita satu " Kompak" jelasnya.(1c)

3 Feb 2026

Budayawan Cirebon soroti keberadaan Wisata

INDOMEDIANEWS - Seakan berjalan ditempat dan bahkan lambat dalam pengembangan wisata yang ada di Kabupaten Cirebon terjadi karena adanya banyak faktor, diantaranya adalah kekurang pahaman para pemangku kebijakan yang bergerak dibidang perpariwisataan.
Hal tersebut dipaparkan salah seorang penggiat seni budaya dan wisata, sekaligus ketua FPK ( Forum pembauran kebangsaan)  H.Taufik,  yang menyikapi terjadinya kelambatan dalam pengembangan wisata.

"Kabupaten Cirebon sebetulnya memiliki potensi wisata yang sangat luar biasa, hanya saja memang selama ini terkesan wisata di Kabupaten Cirebon jalan ditempat, pertanyaannya mengapa bisa demikian, tentunya ada beberapa faktor penyebabnya, diantanya adalah kekurang pahaman para pemangku kebijakan yang bergerak dibidang perpariwisataan, semisal kurangnya memahami apa itu konsep wisata dan bagaimana cara mengelola wisata agar bisa berkembang dan tidak bersifat gebragan" tuturnya, Selasa,03/02/2026.

Lebih lanjut Taufik menuturkan, bahwa keberadaan wisata seharusnya disesuaikan dengan tempat atau keadatan yang ada di desa itu sendiri, semisal kita ambil contoh di Kecamatan Lemahabang, menurut hemat kami, di kecamatan Lemahabang ada beberapa desa yang memiki potensi wisata yang sangat menjanjikan, seperti Desa Belawa yang dikenal dengan wisata Kura-Kura, Cipeujeh wetan yang dikenal dengan hintip tahunya, Desa Asem dengan konsep bakri, Tuk Karang Suwung dan Sindang Laut dengan wisata religinya dan Desa Sigong yang merupakan desa Budaya dengan Wayang golek cepak, semuanya merupakan tempat yang sangat potensial untuk dijadikan wisata, hanya saja persoalannya tempat yang potensi tersebut kurang bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh beberapa pihak, termasuk pemerintahan desa itu sendiri, intinya mereka yang bergerak dibidang pariwisata harus memiliki kemampuan tentang bagaimana caranya mengembangkan wisata secara langsung, dalam artian bukan berdasarkan katanya atau hanya belajar dari gogel, jadi kalau ingin memajukan wisata harus disesuaikan denga kondisi desa itu sendiri dan kearifan yang ada di desa tersebut, jangan sampai hanya sebatas membangun tanpa ada konsep kelanjutan yang jelas" pungkasnya.(1c)

Perlukah Program MBG dipertahankan ?

Penulis R.Agus Syaefuddin

Harus diyakini, apapun program yang dicanangkan oleh Pemerintah dipastikan bertujuan baik demi Masyarakat.
Namun tentunya baik saja tidak cukup, harus diimbangi dengan berbagai pertimbangan dan kearifan yang benar-benar bermanfaat bagi Masyarakat tanpa merugikan sebagian Masyarakat lainnya.
Hal ini pula yang terjadi dalam pelaksanaan Program MBG ( Makan Bergizi Gratis)
Disatu sisi, program tersebut memberikan keuntungan bagi banyak pihak, seperti mengurangi dampak pengangguran, memberikan kesempatan pekerjaan, memberikan Hak Anak Bangsa untuk menikmati makanan yang bergizi tanpa harus membayar, meningkatkan kualitas mutu kesehatan dan lain-lain.
Namun pada kenyataannya, program yang sangat baik tersebut tidak dibarengi dengan kebaikan lainnya.
Diantara dari dampak adanya program MBH tersebut adalah banyak terjadi keracunan akibat makanan yang disalurkan, berkurangnya pendapatan pedagang kecil yang diakibatkan karena barang yang diperlukan sudah di drop oleh pengelola dapur MBG, hususnya para pedagang buah eceran dan sejenisnya, tidak sesuainya nutrisi atau kebutuhan yang sesuai dengan usia para penerima makan bergizi gratis, karena setiap usia tidak sama nilai pemenuhan gizinya.
Dari beberapa hal yang terjadi selama ini, tentunya perlu mendapat perhatian dan kajian lebih mendalam, apakah Program tersebut layak dipertahankan atau lebih baik dialihkan untuk program lainnya.
Betapa tidak, anggaran untuk makan bergizi tersebut nilainya sangat luar biasa, sementara manfaatnya kerap kali menimbulkan persoalan.
Dari berbagai data yang diperoleh, Anggaran untuk program MBG dalam setiap tahunnya menepan anggaran  sebesar Rp. 71 Triliun, jika dirata-rata setiap bulannya mencapai angka Rp.5, 92 Triliun, inipun bisa berubah dan disesuaikan dengan kebutuhan.
Andai saja anggaran tersebut dialihkan untuk pendidikan atau kesehatan, mungkin akan lebih baik dan bermanfaat bagi semua lapisan Masyarakat tanpa ada yang merasa dirugikan.
Ironisnya, walaupun banyak menimbulkan persoalan, bahkan banyak sekolah yang menolak program MBG, nyatanya program tersebut terus berjalan.
Ada secerah harapan dengan stetmen yang dikeluarkan oleh Menteri Keuangan (Purbaya Yudhi Sadewa ) yang mengatakan akan menghentikan program MBG tersebut, namun apakah mampu hal tersebut dijadikan kenyataan, sementara yang memegang kekuasaan penuh adalah Presiden Republik Indonesia, dan Program MBG merupakan salah satu program unggulan Presiden Republik Indonesia ( Prabowo)
Andai saja keegoisan bisa dipinggirkan, tentunya tidak ada kata malu atau gengsi untuk merubah sebuah program ke program lainnya yang lebih bermanfaat dari sekedar bermanfaat.
Kini kita hanya bisa berharap, agar Pemerintah lebih Arif dan bijak dalam menentukan berbagai kebijakan, sekali lagi, penulis hanya menegaskan, baik saja tidak cukup tanpa dibarengi dengan kata "BENAR" dan istilah benar ini jangan dijadikan sebuah kebenaran jika ujungnya untuk pembenaran sendiri.

2 Feb 2026

Kura-Kura langka Cikuya "kekurangan lahan penangkaran'"

INDOMEDIANEWS -Aktifis Cirebon Timur yang akrab disapa Bunda Lili, menyoroti Keberadaan Obyek Wisata Edukasi Cikuya, yang berlokasi di Desa Belawa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon.
Wanita yang aktif di bidang Kemasyarakatan ini mengharapkan adanya perhatian dari Pihak Pemerintah untuk keberlangsungan Wisata Cikuya yang identik dengan keberadaan Kura-kura langka.

"Kami saat ini hadir bersama Ibu-ibu senam untuk melihat secara langsung keberadaan Obyek wisata Cikuya, menurut saya wisata Cikuya ini merupakan salah satu Obyek Wisata yang harus didukung dan diperhatikan secara penuh oleh Pemerintah, baik Kabupaten, Provinsi maupun pusat, mengapa demikian, karena di Kabupaten Cirebon, Wisata Cikuya ini merupakan wisata edukasi dan konservasi bagi berkembangbiaknya Kura-kura yang masuk dalam kategori langka, secara keseluruhan memang terlihat wisata ini sudah sangat asri dan cocok untuk dijadikan salah satu tempat kunjungan wisata, hanya saja mungkin akan lebih baik lagi jika diperluas dan ditambah fasilitas lainnya, oleh karenanya, kami sangat berharap, agar instansi atau Dinas terkait lebih memperhatikan keberadaan wisata ini, jangan sampai Kura-kura langka ini punah hanya karena kurangnya fasilitas pendukung" tuturnya, Minggu, 01/02/2026.

Senada hal tersebut disampaikan salah seorang anggota atau pengurus Pokdarwis, yang akrab disapa Kang Awod, dirinya menjelaskan, bahwa kekurangan Cikuya adalah terbatasnya lahan.

"Kami selain mengurus dan membudidayakan keberlangsungan Kura-kura  berjenis labi-labi ini, hal lainnya adalah bagaimana agar wisata Cikuya ini tetap bisa ada dan berupa untuk terus meningkatkannya, ini semua kami lakukan semata agar Kura-kura langka ini tidak punah" tuturnya.

Lebih lanjut Awod menuturkan, bahwa kendala yang terus ada dan belum bisa terselesaikan adalah keterbatasan lahan untuk membudidayakan Kura-kura.

"Idealnya kami memiliki tempat penangkaran yang memadai, saat ini Balong penangkaran yang ada hanya berjumlah tiga ditambah satu Balong utama, seharusnya minimalnya ada lima Balong penangkaran dengan ukuran yang memadai, sementara Balong yang ada saat ini selain ukurannya terlalu kecil, juga jumlahnya kurang, jika hal ini terus demikian, maka kami akan kesulitan untuk memelihara agar Kura-kura ini tetap ada, oleh karenanya kami sangat berharap kepada Dinas terkait untuk memberikan perhatian akan kelangsungan wisata Cikuya, terutama adanya penambahan dan perluasan lahan, agar selain bisa memaksimalkan dalam mengurus Kura-kura yang kian hari kian bertambah, juga bisa menambah fasilitas wisata, agar para pengunjung lebih tertarik untuk datang dan menikmati wisata edukasi Cikuya, yang merupakan satu- satunya wisata yang menyuguhkan Kura-kura langka berjenis labi-labi" harapnya.(1c)