Betapa miris, bukan hanya kemiskinan bersifat materi, namun kemiskinan batiniah dan lainnya menjadi faktor penunjang seseorang untuk mengambil langkah pintas sebagai salah satu solusinya.
Dampak kemiskinan tidak hanya terjadi kepada seseorang untuk berbuat kejahatan, namun yang lebih tragis lagi adalah mengakhirinya dengan cara mengakhiri hidupnya.
Baru saja terjadi, Gadis cilik berusia 10 tahun yang baru duduk dibangku kelas 4 Sekolah Dasar di suatu daerah, nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri hanya karena tidak bisa memiliki alat kelengkapan sekolah.
Ini tidak perlu dijadikan ajang perdebatan yang berkepanjangan, namun yang perlu dipahami adalah, kemiskinan yang menerpanya sebagai salah satu faktor utama terjadinya hal tersebut.
Jika saja kita atau Pemerintah bisa berfikir bijak dan menghapus ego atau ambisi, hal tersebut bisa dihindari dengan cara yang lebih bijak dan penuh nalar sebagai Manusia.
Bisa kita bayangkan, Anak yang masih usia sangat kecil, mengambil jalan pintas karena kekecewaan yang nilainya sangat kecil, dengan mudahnya mengakhiri hidupnya dan meninggalkan luka mendalam bagi semua pihak yang memiliki naluri sebagai Manusia.
Ini hanya sebagian contoh yang mungkin akan terus terulang jika tidak segera diambil langkah yang kongkrit.
Menilik hal tersebut, penyebab dari terjadinya peristiwa yang memilukan ini hanya karena tidak adanya biaya untuk memenuhi kebutuhannya sebagai Siswa atau pelajar karena aspek kemiskinan.
Jika saja kita sebagai Anak Bangsa bisa memberikan masukan atau evaluasi terhadap berbagai kebijakan yang diterapkan Pemerintah, mungkin akan lebih baik program yang selama ini menjadi perbincangan, seperti salah satunya adalah Program MBG ( Makan Bergizi Gratis) dialihkan menjadi Program Pendidikan Gratis tanpa kecuali dengan aturan Hukum yang tegas.
Selama ini Memeng sering didengungkan adanya sekolah gratis atau lainnya, namun pada kenyataannya masih banyak terjadi pungutan atau apapun namanya dengan dalih yang seakan membenarkan.
Coba kita berfikiran Arif, berapa banyak anggaran yang digelontorkan dalam program MBG, jika dihitung secara kasar, setiap Siswa penerima MBG dianggarkan pada kisaran Rp.10.000 per porsi, diambil rata-rata setiap Bulannya adalah 25 porsi, maka per Siswa dianggarkan sebesar Rp.250.000.
Andai saja anggaran sebesar itu dialihkan untuk biaya pendidikan, akan lebih berdampak positif.
Dengan kekuasaan yang dimiliki Pemerintah, tentunya hal tersebut tidaklah sulit, dengan catatan, Sekolah dimanapun tidak diperbolehkan memungut sepeserpun kepada para Siswa, termasuk Sekolah diwajibkan untuk memenuhi kebutuhan para Siswa, seperti perlengkapan Sekolah, dari mulai alat tulis hingga seragam Sekolah.
Jika ditemukan adanya Sekolah yang melakukan pungutan dengan dalih apapun, terapkan Hukum Pidana.
Coba kita berfikiran positif, andai setiap sekolah memiliki minimalnya seratus Siswa, maka dalam setiap Bulan Sekolah akan menerima anggaran sebesar Rp.25.000.000 jika dikali 12 Bulan, maka Sekolah akan menerima Anggaran sebesar Rp.300.000.000.
Dengan jumlah sebesar itu, tentunya bisa menunjang kualitas pendidikan lebih baik, termasuk mampu mensejahterakan para Guru Honor dan menambah fasilitas pendidikan lainnya.
Uraian diatas, merupakan pemikiran yang sangat simpel dan bisa dikalkulasi dengan tidak memerlukan pemikiran para pemikir ulung.
Hanya saja, apapun yang ada dipikiran Rakyat terkadang dikalahkan oleh kebijakan dan kepentingan segelintir orang atau golongan.
Semoga dengan terjadinya peristiwa gantung diri yang dilakukan oleh Siswa Sekolah yang baru berusia 10 Tahun, mampu membuka mata hati dan menghilangkan keegoan dan keserakahan demi kepentingan yang selalu mengatasnamakan RAKYAT.
0 $type={blogger}:
Posting Komentar