Namun tentunya baik saja tidak cukup, harus diimbangi dengan berbagai pertimbangan dan kearifan yang benar-benar bermanfaat bagi Masyarakat tanpa merugikan sebagian Masyarakat lainnya.
Hal ini pula yang terjadi dalam pelaksanaan Program MBG ( Makan Bergizi Gratis)
Disatu sisi, program tersebut memberikan keuntungan bagi banyak pihak, seperti mengurangi dampak pengangguran, memberikan kesempatan pekerjaan, memberikan Hak Anak Bangsa untuk menikmati makanan yang bergizi tanpa harus membayar, meningkatkan kualitas mutu kesehatan dan lain-lain.
Namun pada kenyataannya, program yang sangat baik tersebut tidak dibarengi dengan kebaikan lainnya.
Diantara dari dampak adanya program MBH tersebut adalah banyak terjadi keracunan akibat makanan yang disalurkan, berkurangnya pendapatan pedagang kecil yang diakibatkan karena barang yang diperlukan sudah di drop oleh pengelola dapur MBG, hususnya para pedagang buah eceran dan sejenisnya, tidak sesuainya nutrisi atau kebutuhan yang sesuai dengan usia para penerima makan bergizi gratis, karena setiap usia tidak sama nilai pemenuhan gizinya.
Dari beberapa hal yang terjadi selama ini, tentunya perlu mendapat perhatian dan kajian lebih mendalam, apakah Program tersebut layak dipertahankan atau lebih baik dialihkan untuk program lainnya.
Betapa tidak, anggaran untuk makan bergizi tersebut nilainya sangat luar biasa, sementara manfaatnya kerap kali menimbulkan persoalan.
Dari berbagai data yang diperoleh, Anggaran untuk program MBG dalam setiap tahunnya menepan anggaran sebesar Rp. 71 Triliun, jika dirata-rata setiap bulannya mencapai angka Rp.5, 92 Triliun, inipun bisa berubah dan disesuaikan dengan kebutuhan.
Andai saja anggaran tersebut dialihkan untuk pendidikan atau kesehatan, mungkin akan lebih baik dan bermanfaat bagi semua lapisan Masyarakat tanpa ada yang merasa dirugikan.
Ironisnya, walaupun banyak menimbulkan persoalan, bahkan banyak sekolah yang menolak program MBG, nyatanya program tersebut terus berjalan.
Ada secerah harapan dengan stetmen yang dikeluarkan oleh Menteri Keuangan (Purbaya Yudhi Sadewa ) yang mengatakan akan menghentikan program MBG tersebut, namun apakah mampu hal tersebut dijadikan kenyataan, sementara yang memegang kekuasaan penuh adalah Presiden Republik Indonesia, dan Program MBG merupakan salah satu program unggulan Presiden Republik Indonesia ( Prabowo)
Andai saja keegoisan bisa dipinggirkan, tentunya tidak ada kata malu atau gengsi untuk merubah sebuah program ke program lainnya yang lebih bermanfaat dari sekedar bermanfaat.
Kini kita hanya bisa berharap, agar Pemerintah lebih Arif dan bijak dalam menentukan berbagai kebijakan, sekali lagi, penulis hanya menegaskan, baik saja tidak cukup tanpa dibarengi dengan kata "BENAR" dan istilah benar ini jangan dijadikan sebuah kebenaran jika ujungnya untuk pembenaran sendiri.